Aku Disini

Selasa, 04 September 2012

Ujian Melawan Diri Sendiri

Kesadaran itu sudah hadir, namun merealisasikan kesadaran dalam tindakan nyata begitu susahnya. Aku tahu apa yang terbaik untukku namun tak pernah aku lakukan itu. Bukan tidak tergerak namun bawaannya males mulu. Susah amat ngilanginnya. Berat sekali memaksa diri memenuhi hasrat untuk memerangi malas dan mendisiplinkan diri padahal aku sudah tahu bahwa akibatnya pasti akan datang kegelisahan dan kebingungan. Setelah gelisah dan bingung itu hadir, bukan tindakan memaksa dan disiplin diri yang aku lakukan namun aku biarkan diri dalam kegelisahan. Tak ada waktu ketika itu untuk bahagia dan menikmati setiap detik yang berjalan karena semua telah dirampas oleh kegelisahanku sendiri. So, hari-hariku adalah hari-hari gelisah. Tak banyak yang bisa dilakukan dan pasti pula tak ada peningkatan. Semua hari berkutat pada rasa gelisah yang dengan sengaja diciptakan sendiri. Dan parahnya aku salahkan Tuhan kenapa Dia dengan teganya membiarkan aku seperti ini. Jadi, penghancur utama kehidupanku bukanlah dari luar, orang lain atau lingkungan tapi diri sendiri. 

Aku kadang menyebut ini ujian dari-Nya tapi dipikir-pikir lagi ujian kok kayak begini. Sangat naïf sekali aku menyebut ini sebagai ujian dan aku anggap lagi ini ujian terberat. Yah, padahal hanya melawan rasa malas, penundaan, egois, dan segala hal yang terkait dengan diri. Hanya melawan diri sendiri. Dalam hidupku tak ada ujian yang sumbernya dari luar sikap diri yang tak selesai-selesai ini.  Aku menangis meraung-raung ke Tuhan juga hanya karena persoalan bagaimana aku melawan diri sendiri. Bahkan dalam tahap ini aku mencari dan mencari dimana letak Tuhan sebenarnya untuk bisa aku temukan agar Tuhan bisa membantuku menyelesaikan persoalan yang aku anggap pelik ini. Hem, mencari bentuk dan membentuk diri dengan melawan diri. Proses pencarian yang begitu beda dengan yang lain. Aneh dan cukup terbelakang. Hehe, ujung-ujungnya nih aku hancur dan pelan-pelan bisa musnah. Betapa tidak, saat ini aku tak lagi menghargai diri, aku cap diri tak akan pernah bisa, cita-citaku juga hilang, semangatku mengendor, aku sulit untuk bergaul, berhadapan atau berinteraksi dengan orang lain, aku seakan tak bisa semuanya, bahkan aku hampa hadapi hidup ini, menjadi tak berarti dan tak ada rasa nikmatnya. Hambar tak berasa. Disinilah aku memilih jalan keluar untuk menyendiri, tidur, dan membebaskan diri dari belenggu tanggung jawab termasuk ngerinya nih aku tinggalkan kewajiban dari Tuhan pula tanpa merasa bersalah dan mengakui keberadaan-Nya-yang pasti melihat diri ini. Jadi, kalau aku punya masalah dengan orang lain sebenarnya bukan orang lain factor penyebabnya tapi aku. Termasuk jika aku punya masalah dengan Tuhan sekalipun, penyebabnya bukan DIA tapi aku. Yah, dari sikap dan sifat diriku yang tak kunjung aku rubah padahal aku sadar akan hal itu.

Sudah banyak nikmat-Nya yang aku sia-siakan, sudah tak terhitung kesempatan yang terbuang, sudah menua dan rusak pikiran, sudah berkarat hati, sudah banyak hubungan terputus, sudah tipis keimanan, sudah segalanya; hancur dan musnah.  Kalau sudah kayak begini aku tanya, Tuhan ini sebenarnya ada dimana?. Apa tindakan DIA melihat hambanya dikejar masalah?. Mana Tuhan yang katanya Maha Pemberi Petunjuk dan punya sifat Rahman Rahim itu?. Allah Rabb, ampuni hamba!. Karena sebenarnya sudah lepas tanggung jawab-Mu dengan diberikannya hamba kesadaran namun aku saja yang tak mau mengeksekusi kesadaranku itu dengan tindakan. Aku ingin Engkau gerakkan semuanya dengan kuasa-Mu walau aku sendiri tak mau bergerak. Aku pikir, Engkau yang harus mengeksekusi dengan tidak hanya berhenti memberi kesadaran pada hamba tapi juga menggerakkan tangan, kaki, pikiran dan tubuh ini mengarah pada kesadaran yang Engkau berikan itu. Aku ingin Engkau jadikan aku robot yang berjalan tanpa pikiran atau malaikat tanpa nafsu. Begitulah selama ini aku maknai ke-Maha Kuasa-an-Mu, menterjemah kun fayakun-Mu, dan memahami segala sikap baik-Mu. Sungguh sebuah kesalahan dalam pemahaman dan keyakinan. Aku benar-benar telah salah beraqidah pada-Mu. Sangat sayang sekali, Engkau beri hidup hamba setua ini sampai berkepala dua tapi keliru dalam memahami-Mu. Umur ini habis terbuang dalam kesia-siaan. Maaf kalau boleh, aku ingin menyebut proses langka ini bukan sebagai takdir-Mu namun ini semua bagian dari kebodohan dan kesalahan yang murni dariku. Karena kalau tidak pasti akan aku sebut Engkaulah yang merekayasa hidupku seperti ini.

“Jadi tak usahlah aku susah menyesal dengan waktu yang sudah banyak terbuang. Wong ini bagian dari rencana-Mu kok.
Hingga kalau ini sudah menjadi bagian dari pikiranku, pastilah keinginan untuk berubah itu akan susah untuk muncul sengan sempurna lewat hati, ucap dan tindakan nyata. Jadilah aku terperangkap kembali pada pemahaman yang salah. Hancur lagi dan pasti hidupku tak berarti. Jangankan dipilih sebagai hamba-Nya yang layak mendapat predikat sebagai hamba yang berprestasi denga reward surga-Nya, menikmati hidup saja aku tak akan mampu karena jelas aku disiksa oleh keadaanku sendiri (walau sampai sekarang aku ingin hadapi hidup ini hancur sekalian dengan menikmati segala kesenangan duniawi walau itu dimurkai-Nya. Emang gak takut sama Allah ya?.).

Aku sekarang sadar akan kesalahanku dalam beraqidah, menyakini dan memahami-Nya. Sangat mengerikan kiranya kalau aku tidak segera mengeksekusi kesadaran ini dengan taubat nasuha dan tindakan sebagai ujung dari perubahan. Karena kalau aku melihat ini sudah memuncak dan aku sendiri sudah ngeri melihat ini semua. Kalau aku sendiri tak bergerak tak akan bisa, tentu dengan pertolongan-Nya. Karena aku menghilangkan DIA sepenuhnya pastilah aku terjebak kembali pada kesalahan untuk yang kedua kalinya-walau pemahaman yang berbeda. Kalau di awal aku meyakini bahwa segalanya adalah Allah dengan mengesampingkan usaha dan menisbihkan peran akal dan pikiran, untuk yang kedua ini segalanya adalah AKU dengan meminimalkan-Nya. Terjebaklah aku pada aqidah kaum Jabariyah dan Qadariyah. Ihhh…menakutkan sekali. Inilah sumber ketidak tenangan hidupku selama ini. Mengaku beraqidah Islam namun dalam pemikiran (baca : pemahaman ) salah fatal. Inilah mungkin kenapa pengakuanku akan keberadaan-Nya dan air mata yang senantiasa keluar karena harap dan takut pada-Nya, tak berujung pada perubahan perilaku dan berbuah istiqamah. Qalbun Salim yang aku dambakan juga tak kunjung datang.

Aku telah memilih diri ini untuk menjadi “KRAN” kurnia-Nya; Ilmu, Hikmah dan Harta. Aku harus terus belajar dari setiap proses yang aku jalani ini. Dan berharap ini bagian dari prosesku menuju kesana. Sekarang sudah saatnya melangkah kembali dengan hati, ucapan dan tindakan yang selaras. Paling tidak itu dulu. Setelah itu, semoga akan dapat banyak hikmah yang akan menuntun diri ini berjalan menuju kesana. Tentu dengan tidak menafikkan peran baik-Nya dan tetap menjadikan DIA sebagai awal dan ending dari proses ini. Rabb, ijinkan hanya untuk-Mu walau hamba berjalan tidak sepenuhnya menuju kesana karena kelemahan, kebodohan dan segalanya yang kurang dariku.

Surabaya, 17 Januari 2012

Tidak ada komentar:

Pengikut