Aku Disini

Senin, 03 September 2012

Aku Merasakan Kematian Itu Dekat


Tubuhku menggigil, jantungku berdenyut kencang, nafas terasa sebentar akan terhenti, terasa segala hal di sampingku menjadi hambar dan tak seperti ada.. Huh, aku begitu takut dan ingin menghentikan seketika aktifitas keduniaanku. Aku ingin berteriak keras; “Allah….!!!. Jangan Kau ambil dulu nyawa ini karena hamba belum siap. Aku takut Allah merasakan sakitnya kematian itu dan aku belum bisa meninggalkan orang-orang yang hamba cintai, ada sejuta keinginan baik hamba yang bisa kujadikan bekal menuju-Mu”. Ini adalah kejadian dahsyat yang aku alami. 

Dari awal aku sampaikan jika aku ingin merasa dekat dengan-Nya, hampir menjadi tak terasa yang lain. Hambar dan aku ingin hanya DIA yang ada dalam hatiku bukan yang lain, kalaupun ada yang lain harus aku pastikan DIA menyertainya. Tapi jika aku mulai ada kecenderungan mendekati dosa, seakan DIA tak ada dan tak tergetar sama sekali hati ini walau aku paksakan mengingat-Nya. Rasa nikmat yang dimunculkan kegiatan dosa itu melupakan segalanya termasuk DIA. Astagfirullah..

Berkali-kali aku sampaikan pada-Nya kalau aku ingin taubat nasuha, dan tak ingin menyentuh dosa sekecil apapun itu. Aku ingin hati yang bening, qalbun salim. Tapi aku tak punya kekuatan menghindar dari dosa dan melaksanakan ketaatan dengan penuh pada-Nya dengan istiqamah. Aku bertanya, bagaimana caranya?. Setiap kali aku sadar dan ada kecenderungan ingin dekat dengan-Nya aku menggigil keras dan tumpah air mata. Di saat apapun itu khususnya ketika shalat.

Dan aku ingin sampaikan padamu, sadar itu lahir ketika harap padamu itu hadir lewat mengingatmu dari angan seketika atau karena kau hadir secara fisik dihadapanku. Harap ini hadir, aku ingin segera memutuskan menghadap-Nya. Akupun bersimpuh dengan berharap banyak DIA sambut kehadiranku. Aku meyakinkan-Nya dengan kondisi hati yang luluh. Saat itu yakinku bertambah besar bahwa pada saatnya nanti DIA pasti kabulkan harap ini. Hem, ada bahagia seketika dengan hadirnya keyakinan itu. Tapi tak jarang saat simpuh puncakku aku ingin pasrah dan ingin hanya DIA yang tak boleh lepas dari hati dan kehidupanku. “Aku ikut mau-Mu Tuhan walau harap ini tak akan pernah sirna jika memang ada Engkau dalam harap ini”.

Tepat ketika untuk yang kedua kalinya setelah simpuh sujud dalam waktu dhuhur-Nya, perasaan ingin harap pada-Nya muncul kembali dalam waktu Ashar-Nya. Dalam shalat Ashar jama’ah itu aku menggigil kuat dengan tumpah ruah air mata. Dan inilah waktunya, perasaan maut akan menjemputku tiba-tiba hadir dalam dada. Aku ketakutan, bener-bener dahsyat kejadian ini. Aku seakan tak mampu lagi bergerak. Aku ingin menyebut nama-Nya dengan keras sampai pada akhirnya Allah pastikan nyawaku tercabut. Entah bagaimana sakitnya. Aku ingin mengerang. Aku ingat Rasulullah saja merasakan sakit saat ajal menjemputnya. Apalagi saya ya Rabb, betapa akan terasa dahsyat rasa sakit itu karena aku tahu aku adalah hambamu yang berlumur dosa dan noda. Seketika itu juga, orang-orang tercinta ada dalam bayanganku. Bagaimana kagetnya ibuku tercinta mendengar berita kematianku. Aku tak kuasa membayangkannya, semakin menambah ketakutanku saat itu. Entah berapa lama rasa sedih dan air mata itu akan terus tumpah ruah dipipinya yang mulai keriput itu?. Karena aku tahu betapa banyak harap bahagia yang ingin beliau dapatkan lahir lewat wasilah diri ini. “Tuhan, ijinkan sejenak aku bertemu ibu. Biar saat badan ini merenggang ibu ada memangkuku”. Aku ingat semuanya, termasuk kau juga datang dalam bayanganku. “Allah, sungguh aku takut sekali, aku belum siap. Aku belum bisa berbuat banyak Rabb untuk bekalku menghadap-Mu. Ingin demi ingin ini, ingin aku capai dulu karena ada Engkau disana. Dan itulah aku tetap berharap Engkau penuhi segala ingin itu”. Huh, selepas salam shalatku perasaan dekat dengan mati semakin menjadi. Aku merasa hanya satu tarikan nafas aku akan meninggalkan semuanya. Aku coba tenangkan diri keluar masjid namun semakin menjadi pula. Pandanganku hambar tiba-tiba dan serasa semua jadi hampa. Maju mundur aku ingin menelepon Bapak Ibnu Rusydi, guru sekaligus teman curhatku. Aku telepon beliau dan aku ceritakan semuanya padanya, itu bagiku akan menjadikan bayang kematian ini akan semakin dahsyat. Tidak, aku tidak ingin cerita apapun dan kuurungkan keinginan menelpon beliau. Aku takut ceritaku jadi pertanda bahwa kematianku benar-benar akan terjadi. Berpikir seperti ini aku takut.

(Masjid as-Syahriyah Malang, 12 September 2011)    

4 komentar:

Unknown mengatakan...

apakah anda yg mersakan seperti ini..atau ini perkongsian dripada org lain??

Chotieb Ahmed mengatakan...

Setiap yang tertulis dalam blog ini adalah pengalaman perjalanan hidup pribadi.

Allahu karim..

Unknown mengatakan...

subhanallah..saya juga pernah merasa seperti apa yang kamu rasakan..sehingga saya merasa takut yang teramat sangat..huhu..

Unknown mengatakan...

Assalamualaikum,

Bagaimana keadaan selanjutnya dari cerita anda ?
karna saat ini saya merasakan hal yang sama. saya ketakutan sekali.

Pengikut