Aku Disini

Kamis, 30 Agustus 2012

Mengkonkritkan Keinginan

Memang masih abstrak keinginan-keinginan ini. Bahkan saat ini sudah tak begitu banyak keinginan. Yang ada bagaimana saya bisa segera keluar dari kemelut diri. Sibuk memperbaiki diri sehingga kadang terabaikan segala keinginan yang dulu sempat terpatri. Kalau pun masih ada keinginan itu, tak tentu jelas kemana kaki ini akan melangkah. Aku begitu bingung mencari tahu bagaimana caranya. Kalau pun kadang ada, aku mengira itu bukan jalannya karena bagiku jalan itu tak mungkin membuatku gelisah. Sedangkan kalau harus mencari jalan yang lain tak terbersit sama sekali. Kalau pun ada, aku hanya mengira saja disitu aku tidak akan temukan gelisah. Seperti yang kukatakan berulang-ulang, aku ingin memulai start dari nol dan memulai segalanya dengan indah. Tapi mungkinkah aku mundur dahulu untuk mengambil langkah?. Tidakkah aku melangkah dari sekarang saja. Perbaiki yang ingin diperbaiki bersamaan dengan tetap berjalan. Jadi tak usah menunggu untuk berhenti terlebih dahulu. Terlalu lama dan bikin aku akan ketinggalan jauh dari yang lain dan pasti akan semakin sedikit waktu yang aku punya. Walau masih ada dalam pikir ini kalau aku bisa melangkah kelak, pasti semua akan terlewati dan aku bisa mengimbangi mereka-mereka atau bahkan aku dahulu yang di depan seperti dahulu aku di depan namun kini aku yang di belakang karena aku menolak dan menyia-nyiakan waktu yang ada. Aku kaget ketika mereka yang dahulu di belakangku, kini telah maju beberapa langkah di depanku. Aku meringis dan iri. Akankah aku masih mau menunggu dan bermain-main dengan ini?. Sampai pada akhirnya aku akan menemukan diri dalam keadaan yang sebenar-benarnya kalah dan yang membuat kecewa segala macam kebahagian itu akan direbut oleh orang lain dan tak menjadi milikku lagi. Aku hanya bisa mengisap jempol menertawakan sekaligus akan menangis dengan kekalahan sendiri.

Saat ini, tak usahlah berbicara banyak tentang takdir karena kau sendiri tak tahu maknanya. Lakukan yang terbaik menurutmu dan tentu patuhi segala ketentuannya insyaAllah semua akan terkabul dan takdir yang baik sajalah yang akan memihakmu. Kalau kau tak segera membuang dan menganti pemahamanmu tentang takdir, hidayah dan Tuhan,- kau benar-benar akan menemukan kekalahan total dan kau akan terpenjara oleh dirimu sendiri. Sampai pada akhirnya kau akan menjadi sufi “karbitan” yang dipaksa karena memang aqidahmu yang salah. Kau lari dan ketakutan menuju kesana. Jangan bilang itu akan menjadi kuat dan membumi dalam dirimu. Sekali saja ada hal yang akan mengantarkanmu pada kebahagian walau jelas itu menentang jalan Tuhanmu,kau pasti akan menyambut dengan bahagia. Tak usah jauh, sekarang kau mengalami hal itu. Kau hampiri Tuhan karena kau takut, ketika takut itu hilang dan ada kesempatan bahagia bersamamu-kau pasti meninggalkan jalan Tuhanmu. Sejenak saja kau rasakan kebahagiaan itu, kau akan menyesal dan gelisah sepanjang masa tanpa kau tahu bagaimana cara mengobatinya. Dengan mendekat pada-Nya?. Sudah tak mampu, karena kau lakukan kesalahan demi kesalahan itu dengan sempurna matamu melihat Tuhan dan telingamu mendengar seruan-Nya tapi kau enyahkan. Untung saja kau masih punya rasa menyesal dan gelisah dengan tindakanmu itu. Karena itu pertanda kau masih sekerat iman yang tersisa. Kalau tidak kau akan bahagia selamanya tanpa jalan Tuhanmu itu dan setelahnya kau akan merasakan sakit yang tak terhingga karena untuk kembali sudah tertutup rapat dan sama sekali menjadi gelap untuk kau jalani.

Ingat dalam memorimu, bagaimana bisa kasih sayang Tuhan itu masih ada saat kau ingin mengejar kebahagiaan itu tanpa jalan-Nya?. 

(Surabaya, 14 Desember 2011)

Tidak ada komentar:

Pengikut