Aku Disini

Rabu, 29 Agustus 2012

Sabar Syukur Kunci Sukses Orang Beriman

Assalamu’alaikum wr.wb.

Alhamdulillah pada hari ini kita memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadlan. Kalau pada 10 hari pertama Allah menjanjikan rahmat, 10 hari kedua ada ampunan Allah, maka pada sepuluh hari terakhir ini Allah menjanjikan pembebasan dari api neraka. 10 hari terakhir pertama sudah kita lalui, semoga Allah menerima segala amal ibadah kita di 10 hari pertama itu dan Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita. Demikian juga 10 hari kedua sudah kita lalui, kita berharap semoga Allah menerima amal ibadah kita di 10 hari kedua dan semoga kita termasuk dari orang-orang yang berpuasa-yang mendapatkan ampunan Allah. Dan marilah kita menggunakan kesempatan di 10 hari terkahir ini dengan lebih banyak meningkatkan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Rasulullah saw. bersabda dalam  kitab shahih Bukhari nomer 996:

Dari Aisyah r.a., katanya:”Nabi saw., biasanya apabila tiba sepuluh (yang akhir pada bulan Ramadlan), beliau ikatkan sarungnya erat-erat, beliau berjaga malamnya dan beliau bangunkan keluarganya”.

Pada 10 hari terakhir ini Allah menyiapkan malam kemulyaan yaitu lailatul qadar sebagaimana firman Allah swt. surat al-Qadr ayat 1-5

Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemulyaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemulyaan itu?. Malam kemulyaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Oleh karena itu, kita diperintahkan pada 10 hari terakhir bulan Ramadlan untuk memperbanyak ibadah kepada Allah swt. Sungguh mulya orang-orang yang diberi kesempatan berjumpa dengan malam kemulyaan itu. Semoga kita termasuk dari orang-orang yang diberi kesempatan untuk menadapatkan lailatul qadr.

Mungkin ada yang bertanya: ”kalau malam kemulyaan itu sama atau lebih baik daripada seribu bulan sedangkan seribu bulan itu 83 tahun 4 bulan berarti setelah seseorang mendapatkan lailatul qadr pasca Ramadlan tidak perlu ia ibadah?. Karena nilai ibadah yang dilakukan pada malam lailatul qadr itu sama dengan ibadah seribu bulan. Kalau dia shalat sunnah dua rakaat sedang shalat sunnah dalam bulan Ramadlan sama seperti shalat wajib, maka berarti orang tersebut seolah-olah telah melaksanakan shalat wajib yang dua rakaat 83 tahun dan 4 bulan lamanya”. Pertanyaan ini sama halnya dengan sebuah pertanyaan: ”Kalau orang yang memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa itu akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa berkurang sedikitpun, berarti cukuplah saya memberi orang berpuasa tanpa berpuasa?.” Ini jelas pemahaman yang keliru. Ibarat ada orang yang sibuk memikirkan dasi dan perhiasan yang bagus untuk menghiasi badannya sedangkan dia tidak memakai celana?.  Artinya : bisa diambil sebuah pemahaman bahwa perkara yang wajib dalam agama itu harus tetap mendapatkan prioritas utama, tidak boleh tidak harus dikerjakan. Perkara sunnah atau pahala yang berlipat ganda yang akan diberikan kepada seseorang yang melakukan suatu amalan itu hanya menunjukkan keistimewaan dari amalan itu, tidak menunjukkan adanya pengguguran amalan yang lain karena atas dasar pahalanya sama atau melebihi. Apalagi amalan itu dalah amalan yang wajib, jelas tidak bisa digugurkan oleh amalan yang lain.

Keistimewaan itu bisa jadi karena waktu, karena tempat atau bisa juga karena orang. Keistimewaan yang diberikan kepada suatu amalan karena waktunya yang istimewa contohnya bulan Ramadlan. Betapa istimewanya Ramadlan sehingga segala amalan baik yang dilakukan didalamnya akan menjadi istimewa pula, akan dilipatgandakan oleh Allah swt. Contoh waktu lain yang istimewa banyak seperti 1/3 malam terakhir, bulan Rajab, Sya’ban dan lain sebagainya.  

Keistimewaan yang diberikan kepada amalan karena tempatnya yang istimewa contohnya Masjidil Haram, Raudah, Hajar Aswad. Kalau ada orang yang shalat di masjidil haram pahalanya sama dengan shalat ribuan kali di luar masjidil haram. Ada keterangan bahwa orang yang berdoa di Raudhah itu akan kemungkinan besar diterima oleh Allah swt. Sehingga tidak salah kalau ada orang yang ziarah kepada orang yang akan naik haji pasti minta didoakan. Istilahnya orang menyebutnya nitip doa. Kalau ada diantara jama’ah yang dalam waktu dekat ini mau berangkat ke tanah suci, nanti bilang saya. Saya juga mau nitip doa. Semoga Allah dekatkan saya dengan jodoh yang shalehah. Hehe..

Kalau keistimewaan karena orang contohnya adalah orang-orang yang dekat dengan Allah seperti para nabi dan rasul, ulama dan orang-orang yang shaleh-yang dekat dengan Allah. Sehingga tidak salah kita meminta didoakan kepada ulama misalnya. Seperti yang dilakukan para sahabat meminta didoakan kepada Rasul. Salah satu contohnya Tsa’labah. Sahabat yang satu ini termasuk dari sahabat nabi yang beruntung didoakan oleh nabi sehingga dia menjadi orang yang kaya raya walaupun pada akhirnya dia kufur nikmat.

Saya sebenarnya disini tidak bermaksud menjelaskan tentang Lailatul Qadr dan keistimewaan-keistimewaan amalan atau beberapa penjelasan yang saya jelaskan barusan. Namun penting kiranya saya selipkan beberapa hal. Sedikit mengingatkan Lailatul Qadr karena hari ini kita sudah masuk sepuluh hari terakhir yang dalam beberapa keterangan baik hadist atau pendapat ulama’ menyatakan bahwa Lailatul Qadr itu ada pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan. Demikian juga kita sebagai umat Islam harus semakin sadar bahwa Ramadlan ini adalah bulan yang istimewa untuk bekal kita menjadi baik pada bulan berikutnya. Kita diperintahkan mengejar yang sunnah tapi dengan tidak melupakan untuk menyempurnakan yang wajib. Kalau kita semangat untuk tarawih berjamaah di masjid maka marilah semakin kita latih diri kita untuk semangat pula melaksanakan shalat yang wajib secara berjamaah di masjid. Kalau kita semangat beribadah pada bulan Ramadlan maka mari latih diri kita untuk semangat pula melaksanakan ibadah di bulan lain selain Ramadlan. Tidak dengan selesai Ramadlan selesai pula ibdah kita. Kita berdoa semoga kita termasuk dari orang-orang yang istiqamah.

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia). (al-Imran : 8)

Tema yang diberikan ke saya pada kajian shubuh kali ini adalah syukur dan sabar kunci sukses orang beriman.

Dalam kehidupan ini kita pasti akan mengalami sebuah keadaan yang berbeda secara bergantian. Orang mengatakan kehidupan ini ibarat roda pedati. Kadang di atas kadang di bawah. Demikian juga halnya dalam kehidupan kita pasti mengalami kesenangan dan kesengsaraan di lain waktu, saat ini tersenyum bahagia besok menangis pula. Suka dan duka silih berganti mengiringi langkah kita. Meskipun setiap manusia pasti mengalami perbedaan keadaan secara bergantian; mengalami suka dan duka, senang dan sengsara, kaya dan melarat, setiap orang memiliki sikap yang berbeda pula dalam menghadapi suka dan duka itu. Sikap yang memberikan gambaran apakah orang itu disebut sebagai orang beriman atau tidak. Dalam sebuah hadist Rasul dinyatakan tentang sikap orang yang beriman itu, yang arti hadist tersebut kurang lebih sebagai berikut:

Sungguh unik orang yang beriman itu, ketika dia diberi nikmat dia bersyukur sedangkan kalau dia diberi musibah dia bersabar. Sungguh beruntung orang-orang yang beriman itu.

Berbeda dengan sikap orang yang tidak punya iman di dalam hatinya; ketika dia diberi nikmat dia kufur, sedangkan kalau diberi musibah dia mengeluh dan berpaling.

Ada sebuah cerita menarik dari Rasulullah yang ada di dalam kitab Riyadhus Shalihin no. 65 HR. Al Bukhari dan Muslim, hadits ini juga disebutkan oleh Al Imam An Nawawi.

“Ada tiga orang dari Bani Israil menderita penyakit belang, botak, dan buta. Allah hendak menguji mereka, maka Allah pun utus kepada mereka Malaikat. Malaikat itu datang kepada si belang dan bertanya: Apakah yang paling kamu dambakan? Si belang menjawab: Saya mendambakan paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilang penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku. Malaikat itu pun mengusap si belang, maka hilanglah penyakit yang menjijikkannya itu, bahkan ia diberi paras yang tampan. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apakah yang paling kamu senangi? Si belang menjawab: Unta. Kemudian ia diberi unta yang bunting sepuluh bulan. Dan malaikat tadi berkata: Semoga Allah memberi barakah atas apa yang kamu dapatkan ini.

Kemudian Malaikat itu datang kepada si botak dan bertanya: Apakah yang paling kamu dambakan? Si botak menjawab: Saya mendambakan rambut yang bagus dan hilangnya penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku ini. Malaikat itu pun mengusap si botak, maka hilanglah penyakitnya itu, serta diberilah ia rambut yang bagus. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apakah yang paling kamu senangi? Si botak menjawab: Sapi. Kemudian ia diberi sapi yang bunting. Dan malaikat tadi berkata: Semoga Allah memberi barakah atas apa yang kamu dapatkan ini.

Kemudian Malaikat itu datang kepada si buta dan bertanya: Apakah yang paling kamu dambakan? Si buta menjawab: Saya mendambakan agar Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat. Malaikat itu pun mengusap si buta, dan Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apakah yang paling kamu senangi? Si buta menjawab: Kambing. Kemudian ia diberi kambing yang bunting.

Selang beberapa waktu kemudian, unta, sapi, dan kambing tersebut berkembang biak yang akhirnya si belang tadi memiliki unta yang memenuhi suatu lembah, demikian juga dengan si botak dan si buta, masing-masing memiliki sapi dan kambing yang memenuhi suatu lembah.

Kemudian Malaikat tadi datang kepada si belang dengan menyerupai orang yang berpenyakit belang seperti keadaan si belang waktu itu, dan berkata: Saya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang mau memberi pertolongan kecuali Allah kemudian engkau. Saya meminta kepadamu -dengan menyebut Dzat Yang telah memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang bagus serta harta kekayaan- seekor unta untuk bekal dalam perjalanan saya. Si belang berkata: Hak-hak yang harus saya berikan masih banyak.

Malaikat itu berkata: Kalau tidak salah saya sudah mengenalimu. Bukankah kamu dahulu orang yang berpenyakit belang sehingga orang lain merasa jijik kepadamu? Bukankah kamu dahulu orang yang miskin kemudian Allah memberi kekayaan kepadamu? Si belang berkata: Harta kekayaanku ini adalah warisan dari nenek moyangku. Malaikat itu berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti keadaan semula.

Kemudian Malaikat itu datang kepada si botak seperti keadaan si botak waktu itu. Dan berkata kepadanya seperti apa yang dikatakan kepada si belang. Si botak juga menjawab seperti jawaban si belang tadi. Kemudian Malaikat tadi berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah ? mengembalikanmu seperti keadaan semula.

Kemudian Malaikat tadi mendatangi si buta dengan menyerupai orang buta seperti keadaan si buta waktu itu dan berkata: Saya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang mau memberi pertolongan kecuali Allah ? kemudian engkau. Saya meminta kepadamu -dengan menyebut Dzat Yang telah mengembalikan penglihatanmu- seekor kambing untuk bekal dalam perjalanan saya. Si buta berkata: Saya dahulu adalah orang yang buta kemudian Allah mengembalikan penglihatan saya. Maka ambillah apa yang kamu inginkan dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu senangi. Demi Allah, sekarang saya tidak akan memberatkan sesuatu kepadamu yang kamu ambil karena Allah Yang Maha Mulia. Malaikat itu berkata: Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu itu diuji dan Allah telah ridha kepadamu dan murka kepada kedua temanmu (si belang dan si botak).”.

Allah berfirman: “Jika kalian bersyukur, pasti Aku (Allah) akan tambah (kenikmatan) untuk kalian, dan jika kalian ingkar, sesunggahnya adzab-Ku sangatlah pedih.(Ibrahim: 7).

Kemudian firman Allah dalam QS. An-Nisa’ ayat 147:
Mengapa Allah akan mengadzabmu sementara kamu bersyukur dan beriman?.

Dari dua ayat ini memberikan pemahaman kepada kita tentang keuntungan dari orang-orang yang bersyukur dan kerugian yang akan dialami oleh orang-orang kufur. Ada tiga keuntungan minimal yang akan diberikan kepada orang yang bersyukur terhadap nikmat Allah seperti yang tertera dalam dua ayat tersebut; pertama Allah akan menetapkan nikmat yang ada bahkan Allah akan menambahnya, kedua orang yang bersyukur itu akan terhindar dari azab Allah. Namun begitulah sifat dasar yang dimiliki manusia, tentunya untuk yang ketiga Allah akan memberikan pahala kepada orang yang bersyukur karena dia mau taat kepada perintah Allah.

Dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja beribadah. (An Nahl: 114).

Sedangkan untuk orang yang kufur akan mendapatkan kerugian berupa dicabutnya nikmat itu dan Allah menyediakan azab yang pedih baik di dunia lebih-lebih di akhirat kelak. Nauzubillahi min dzalik.

Ada banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Seandainya manusia menghitungnya tentu manusia tidak akan mampu menghitungnya. Namun seorang ulama’ membagi nikmat menjadi 4 bagian, yaitu:
1.      nikmatut shagir (nikmat yang kecil) yaitu nikmat berupa dunia.
2.      nikmatul kabir (nikmat yang besar) yaitu berupa iman dan Islam.
3.      nikmatul kamil (nikmat sempurna) yaitu nikmat berupa surga dan segala kenikmatanya.
4.      nikmatul qadim (nikmat yang agung) yaitu nikmat bertemu dengan Allah.

”wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat”. (QS. Al-Qiyamah 22-23)

Dan kita sebagai orang yang berpuasa tentu akan mendapatkan surga dan bisa menemui Tuhannya, sesuai dengan janji Allah dalam sebuah hadist bahwa disediakan untuk orang yang berpuasa itu sebuah pintu di surga yaitu pintu ar-Rayyan. Tidak ada yang masuk ke pintu tersebut kecuali orang yang berpuasa (HR. Bukhari 930)

”bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang akan menggembirakannya: apabila ia berbuka ia gembira, dan apabila ia menemui Tuhannya, ia gembira dengan puasanya” (HR. Bukhari 935)

Lalu apa makna dari syukur itu sendiri?. Menurut ulama’ syukur itu adalah dengan meyakini bahwa nikmat tersebut datangnya dari Allah subhanahu wata’ala yang kemudian dia memuji-Nya, menyebut-nyebut nikmat tersebut, serta memanfaatkan nikmat tersebut untuk hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya. Intinya syukur dengan hati, syukur dengan ucapan kemudian syukur dengan tindakan. Itulah syukur yang sempurna.

Allah  telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya: “Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu.” (QS al-Baqarah:152).

Ahli Tafsir, Ali Ash Shobuni menjelaskan bahwa yang dimaksud “Ingat kepada Alloh” itu adalah dengan Ibadah dan Ta’at, maka Alloh akan ingat kepada kita, artinya memberikan pahala dan ampunan. Selanjutnya kita wajib bersyukur atas nikmat Allah dan jangan mengingkarinya dengan berbuat dosa dan maksiat.

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Musa as pernah bertanya kepada Tuhannya: ”Ya Robb, bagaimana saya bersyukur kepada Engkau?  Robbnya menjawab: ”Ingatlah Aku, dan janganlah kamu lupakan Aku.  Jika kamu mengingat Aku sungguh kamu telah bersyukur kepadaKu. Namun, jika kamu melupakan Aku, kamu telah mengingkari nikmatKu”

Di zaman sekarang ini, betapa banyak orang merefleksikan rasa bersyukur, namun dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syukur itu sendiri. Untuk itu, para ulama telah menggariskan tata cara bersyukur yang benar, yakni dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah swt dan meninggalkan maksiat.

QS. an-Nahl ayat 114 menjelaskan bahwa ibadah seorang hamba ditujukan sebagai bentuk rasa syukur.
”Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”.

Ketika rasul ditanya oleh Aisyah :” ya Rasul engkau adalah orang yang dijamin masuk surga oleh Allah, tapi kenapa engkau aku lihat setiap malam terbangun untuk beribadah sehingga kakkimu bengkak?. Kemudian Rasul menjawab :” apakah kamu tidak ingin mendapatkan aku sebagai orang-orang yang bersyukur?”.
Sebenarnya ibadah yang kita lakukan setiap saat hanya dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah swt.bukan karena semata-mata ingin mendapatkan pahala.

Imam al-Haromain al-Juwaini salah seorang guru Imam al-Gazali dalam Kitabul Irsyad dijelaskan tentang ilustrasi manusia sebagai ’abd. Manusia sebagai ’abd diilustrasikan sebagai anak angkat. ”Ada seorang bapak yang mengambil anak angkat seseorang. Anak tersebut mendapatkan hak sama dengan anak yang lain; dia diberi makan, tempat tinggal, disekolahkan dan lain-lain. Namun juga diberi kewajiban oleh seorang bapak untuk menyapu lantai, mencuci mobil dan lain sebagainya. Tidak pantas kemudian anak angkat tersebut meminta gaji kepada bapak karena telah menyelesaikan kewajibannya. Sama juga seperti masnusia yang telah diberi fasilitas hidup dan kenikmatan didalamnya oleh Tuhan untuk meminta pahala karena dia telah melaksanakan kewajibannnya sebagai seorang hamba.

Selanjutnya bagaimana sikap yang ditunjukkan orang beriman ketika ditimpa musibah atau menghadapi ujian?. Hal ini ditunjukkan dalam al-Quran ayat 155-157.
”dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, innalillahi wa innna ilahi raji’un. Mereka itulah yang mendapat keberkatan dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Dan puasa pada bulan Ramadlan adalah untuk melatih rasa syukur dan sabar. Semoga dengan madrasah Ramadlan ini kita menjadi hamba-hamba Allah yang berhasil mendapat predikat sebagai orang-orang bertaqwa yang pandai bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.

Wassalamu’alaikum wr.wb.


#Masjid Nuril Iman Surabaya, tulisan-Q untuk Persiapan Berceramah Kuliah Shubuh Ramadlan 1432 H





Tidak ada komentar:

Pengikut