Aku Disini

Rabu, 10 Oktober 2012

Aku ingin Nikmatnya Saja

Dalam pikiranku saat ini, aku butuh muhasabah dan tafakkur seorang diri tanpa terikat oleh apapun. Seperti Muhammad dalam gelisah aku juga butuh sendiri. Makanya aku punya ingin untuk keluar dari apapun yang bisa mengikatku termasuk pekerjaan di _____ ini. Biar sejenak aku menikmati kesendirianku. Berharap besar setelah itu aku kembali dengan wajah yang lebih ceria, dengan tangan dan pundak yang lebih kuat untuk menerima beban-beban hidup. Aku ingin setelah itu, aku kembali dan lahir dengan diri yang kaffah. Mengerti dan memahami segala hal tentang hidup. Walau aku masih berpikir, itu tak mungkin. Untuk menjadi sempurna dan kaffah itu tak akan datang tiba-tiba. Semua akan mengalami proses siklus yang harus dilewati. Semua butuh akal dan perasaan yang bakal menyertai setiap kejadian yang Tuhan hadirkan untuk menguji setiap hamba. Tidak ada kejadian yang hadir pada seorang hamba tanpa melibatkan akal yang diperas dan perasaan yang dipertaruhkan-kemudian seorang hamba itu menerima, mengerti dan memahami kejadian itu sesuai dengan apa yang menjadi ketentuan-Nya. Aku kalau melihat hamba seperti itu akan bakal iri. Kenapa saya tidak bisa?. Kenapa aku mesti berperasaan dahulu atau menggunakan akal yang justru kadang bertentangan dengan perasaan ketika hadapi kejadian demi kejadian yang terjadi?. 

Sampai-sampai ada kalimat terlontar khusus pada-Nya tentang ini:

“Rabb, aku ingin penuhi segala ingin-Mu. Aku akan hidup dengan-Mu. Apapun segala ketentuan-Mu akan aku ikuti. Walau berat menurut orang lain tapi bagiku karena-Mu akan aku jadikan nikmat. Tapi dengan satu syarat Rabb, jangan libatkan akal dan perasaanku terlalu dalam menghadapi setiap kejadian yang ingin Engkau hadirkan. Cukup Engkau sibak hikmah dibalik setiap kejadian kemudian Engkau kuatkan hamba dengan kekuatan-Mu secara tiba-tiba tanpa perantara aku atau yang lain. Beri aku hidayah agar aku indah selamanya dengan-Mu tanpa halangan dan lagi-lagi tanpa akal dan perasaan yang justru kadang membingungkanku“.
Pikir-pikir lagi, aku ingin seperti malaikat menghadapi setiap ketentuan-Nya. Bahasaku; manusia tanpa akal dan perasaan menghadapi semua kejadian. Aku hanya ingin indah dan nikmatnya saja bermesra dan meraih kecintaan pada-Nya. Aku ingin nikmat-Nya saja tanpa perih dan luka. Yah, kurang lebih seperti malaikat. Tanpa nafsu, tanpa ada salah. Hehe, tapi aku pikir lagi,-apakah bisa?. Tidak logis sama sekali dan jelas tak tentu arah cara berpikir seperti ini. Aku sadari, ini mungkin bagian akibat dari ketidakmampuanku hadapi masalah dan setiap kejadian hidup yang hadir, akibat dari menyalahkan diri sendiri ketika tak bisa hadapi setiap kejadian, akibat merasa kalah dengan yang lain dan akibat merasa yang lain lebih berhasil hadapi setiap kejadian demi kejadian. Sampai berujung pada satu kesimpulan bahwa diri ini begitu lemah dan hina. Diri ini tak mungkin lagi memperbaiki diri dan berbuat apapun untuk hidup. Endingnya aku putus asa, pesimis dan tak mau hadapi hidup ini. Cukup dengan DIA saja. Beribadah dan beramal sebanyak mungkin. Biar DIA yang selesaikan segala urusanku, mengelus dadaku ketika gelisah atau Tuhan sama sekali tak hadirkan gelisah dalam dada ini. Cukup hanya kebahagiaan saja yang aku dapat dari-Nya, cinta-Nya dan aku bisa banyak berbuat karena-Nya. Lagi-lagi tanpa melibatkan ujian yang memungkinkanku untuk gelisah berkepanjangan sampai aku lupa dan tak tahu lagi kembali mengingat-Nya. Ya seperti yang aku alami seperti saat ini; lupa dan tak dapat jalan kembali untuk mengingat-Nya. Makanya sampai-sampai keinginan ekstrim seperti ini muncul tiba-tiba tanpa aku sadari kesalahan dan kekeliruannya. Padahal ini sudah menyangkut aqidah. Ini sebuah pemikiran yang salah dan berikan tanda bahwa aqidahku masih belum beres dan perlu direparasi dengan segera.

Aku masih ingat awalnya; aku punya keinginan, aku punya banyak keterbatasan dan kelemahan (atau bisa jadi pikiranku saja yang mengajakku untuk itu), aku banyak hadapi tantangan,  aku sama sekali tak bersyukur dengan yang ada karena aku senantiasa membandingkan yang telah ada dengan punya orang lain yang aku tak punya. Kemudian muncullah pikiran; katanya Tuhan itu Maha Kaya, Maha Mengetahui dan Maha segalanya,- kenapa DIA tak segera menolongku untuk penuhi keinginan ini karena DIA pun pasti Tahu kalau ending dari segala ingin ini adalah DIA bukan yang lain?. Apa susahnya bagi DIA memberi pertolongan untukku?. Atau apa susahnya bagi DIA untuk memberi pengertian kepadaku tentang semua ini?. Dimana DIA ketika aku lagi gelisah ingin mengetahui jawaban-jawaban dari-Nya yang tak kunjung datang?. Akankah Tuhan ingin aku berpaling dari-Nya sampai aku tak bisa kembali pada-Nya?. Padahal sungguh diri ini tak ingin berpisah walau sejenak dengan-Nya, walau itu hanya dalam hati, itu pun karena aku tak menemukan lagi selain-Nya. Aku takut kehilangan DIA walau aku tak tahu pasti,-atas dasar apa aku takut pada-Nya. Apalagi ketakutan itu kadang hanya sesaat, dipaksakan, dan sangat sulit sekali selaras dengan ucapan dan tindakan.

Dalam kondisi seperti ini aku terus bertanya tanpa ada yang membimbing, tanpa ada yang tahu. Kalau pun aku cerita,-mereka yang mendapatkan ceritaku ini tak bakal paham dengan sempurna. Karena kalimatku atau karena kejadian ini begitu langka ada. Hem, aku pun bingung menjawab dengan jawaban yang mana. Sepertinya kedua-duanya adalah yang benar kalau mereka tak paham dengan ceritaku.

Aku mengalami hal seperti ini sudah sejak lama; 13 tahun lamanya. Selama itu pula aku terus berperang dengan pikiran-pikiranku sendiri, aku mencari jawaban dari setiap pertanyaanku. Bayangkan aku pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali seperti yang aku ceritakan panjang seperti di atas. Aku tak lagi mampu ‘keluar’. Dibilang nyaman-yaa tidak. Dibilang nggak nyaman-kenapa aku masih tetap bertahan?. Setiap kali aku berbuat khususnya yang berhubungan dengan orang lain-aku akan menolak dengan alasan diri tak bisa, tak baik, takut malah bikin tak sempurna untuk orang lain dan aku sudah merasa diri ini begitu lemah dan sangat tak bisa untuk menerima pekerjaan atau amanah ini. Seberat apapun aku ingin cara, bagaimana aku bisa keluar dari pekerjaan dan amanah yang diberikan padaku, kalau dengan kata menolak tidak bisa aku masih berpikir bahkan berdoa pada Tuhan agar aku dilepaskan dengan cara Tuhan dari amanah ini. Tapi biasanya aku sudah berhasil dengan kata menolak saja. Tentunya dengan beragam bumbu alasan, melahirkan kata masalah yang didramatisir sedemikian mungkin, sehingga orang yang mendengar atau orang yang memberi amanah itu pun termakan dengan kalimatku yang berbumbu itu. Aku pun lepas dari amanah yang satu dan amanah yang lain. Lega rasanya bisa menghindar dari amanah,-bukan karena aku saja sebenarnya tapi benar adanya,-aku takut yang lain merasa rugi dengan amanah yang aku pangku itu. Itu pikiran yang terus menggelayutiku setiap saat dan waktu. Aku ini makhluk lemah yang takut sekali menularkan kelemahan pada diri-diri yang lain. Biar aku saja sendiri disini lemah daripada aku bersama dengan maksud baik tapi jadinya malah menambah beban dan memperlemah yang lain.

Selepas terlepas dari amanah, bersama rasa lega itu aku gelisah mempertanyakan diri ini,-mau bagaimana jika setiap amanah yang datang aku tolak atas dasar kelemahan diri. Kapan aku bisa berbuat dan kapan aku bisa berubah dan menghilangkan perasaan itu-yang sejatinya itu membunuhku atau malah aku semakin berpikir bahwa aku tidak bisa. Benar adanya, semakin aku menolak kesempatan demi kesempatan yang aku sebut amanah itu,-semakin diri merasa lemah saja. Ujungnya aku salahkan diri, aku tak lagi bersyukur akan diri dan paling ujung, aku semakin kufur pada-Nya. Mempertanyakan keberadaan-Nya ketika kondisi diri seperti ini; amat sangat membutuhkan-Nya.

Begitulah seterusnya tanpa ada ending, tanpa ada akhir. Walau orang di luar diriku tetap saja menganggapku luar biasa. Padahal menikmati saja segala kemampuan yang disebut oleh orang saja aku sudah tak mampu. Sudah menjadi akut dalam diriku,-bahwa aku lemah dan tak mungkin bisa. Tahukah engkau, bahwa sekarang sepertinya sudah memuncak. Hilang sudah segala idealisme hidup, masa depan dengan segudang harapan dan tingginya impian itu juga sirna. Aku ingin jadi biasa saja. Asal satu, Tuhan yang aku paksakan hadir dalam diri ini bertahun-tahun lamanya tidak pergi meninggalkanku karena kelemahan dan kebodohanku ini. Jangan dan jangan sampai. 13 tahun lamanya aku hadirkan dengan segala cara, semoga tidak menjadi sia-sia. Walau sampai saat ini aku paksa DIA agar terpatri dengan kuat di hati, ucapan dan tindakan. Lagi-lagi dengan cara yang begitu lemah dan bodoh.

“Tuhan, dampingi hamba dalam setiap usaha ini. Masih berharap Engkau menuntunku ke jalan yang sebenar-benarnya bukan hanya yang aku anggap benar. Tuntun hamba sampai pada titik akhir hidupku agar aku bisa menjadi sempurna tidak hanya sebagai seorang hamba yang mengabdi pada-Mu namun juga sebagai khalifah yang menjadi kran kurnia-Mu dalam ilmu, hikmah dan harta. Biarkan aku sampai pada-Mu dengan sempurna”.

(Batangbatang, 13 Desember 2011)

Tidak ada komentar:

Pengikut